Kawasan Timur Tengah sejak dulu dikenal sebagai kawasan yang sangat strategis. Sampai-sampai Tuhan pun menyampaikan wahyu-Nya melalui banyak nabi dan rasul-Nya di kawasan tersebut.

Di era modern ini pun kawasanTimur Tengah tetap terjaga ke-strategis-annya. Sejak berabad-abad hingga pasca Perang Dunia I dan II, bahkan masa sekarang kawasan ini tetap menjadi rebutan bangsa imprealis.  AS adalah adidaya terakhir yang berusaha menguasai Timur Tengah semenjak berakhirnya Perang Dunia II dengan merangkul para penguasa diktator. Upaya itu dilakukan untuk memperluas hegemoni Washington atas dunia. Selama beberapa dekade, AS berusaha mengubah peta politik di Timur Tengah untuk menyokong ambisi imperialismenya di kawasan.

Namun upaya tersebut tak berjalan mulus. Kemenangan Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 menjadi ganjalan utama ekspansi AS di Timur Tengah. Revolusi yang dipimpin Imam Khomeini itu telah memporak-porandakan perimbangan politik di kawasan. Pasca Revolusi Islam, Washington segera mengubah kebijakan Timur Tengahnya dengan berporos pada konfrontasi dengan Republik Islam Iran. Seiring dengan itu, terbentuklah front negara-negara non-demokratis Arab yang dipimpin rezim-rezim otoriter dukungan Gedung Putih. Selain melancarkan kebijakan konfrontatif dengan Tehran, front tersebut juga bertujuan untuk mengeluarkan rezim zionis Israel dari pengucilan dan memberikan legitimasi atas keberadaan rezim Tel Aviv dengan mengusung isu perundingan damai.

Meletusnya serangan 11 September 2001 menjadi dalih utama bagi AS untuk memboyong angkatan militernya ke Timur Tengah atas nama perang anti-terorisme. Peluang itu juga dimanfaatkan Washington, untuk merealisasikan skenario politiknya bertajuk proyek Timur Tengah Besar dan Timur Tengah Raya. Proyek tersebut berpijak pada tujuan politik dan budaya AS yang merupakan perpanjangan tangan dari kebijakan militeristik Washington melalui jalur diplomatik.

Namun lagi-lagi kali ini, AS juga mendapat hambatan serius. Invasi AS di Afghanistan dan Irak menemui kegagalan. Parahnya lagi, rezim zionis Israel selaku sekutu terdekat AS di kawasan juga mengalami nasib tak berbeda. Rezim zionis harus menelan pahitnya kekalahan dalam perang 33 hari melawan Hizbullah Lebanon dan gagalnya agresi 22 hari di Jalur Gaza. Rangkaian peristiwa itu akhirnya memaksa proyek-proyek AS di Timur Tengah harus dimuseumkan sebelum terealisasi.

Kendati demikian, kegagalan bertubi-tubi yang menimpa AS itu tak membuatnya menyerah. Washington masih berharap banyak kepada para tiran-tiran penguasa negara-negara Arab pro-Barat. Sayangnya, lagi-lagi Gedung Putih salah kalkulasi dalam hal ini. Rezim-rezim diktator Timur Tengah ternyata begitu rapuh dan sama sekali tidak memiliki dukungan kekuatan rakyat. Sesekali rakyat bangkit menentang para diktator regional, satu per satu para penguasa negara-negara Arab tumbang secara beruntun seperti dihempas efek domino.

Proses tumbangnya rezim-rezim diktator Arab dimulai dengan jatuhnya pemerintahan Zine El Abidine Ben Ali pada 14 Januari lalu. Nasib yang sama akhirnya menimpa pula pada diktator Mesir Hosni Mubarak, sebagai sekutu terbesar dan terdekat AS di Timur Tengah. Mubarak tumbang hanya dalam tempo 18 hari semenjak rakyat Mesir menggelar demo besar-besaran menduduki lapangan Al-Tahrir, Kairo. Tumbangnya dua diktator Arab tersebut menjadi pelajaran bagi rakyat di negara-negara regional bahwa dengan bermodal persatuan dan keberanian, setiap diktator di manapun bisa ditumbangkan.

Bersamaan dengan itu, kebangkitan rakyat dan euforia kemenangan revolusi Mesir menjalar ke negara-negara Arab lainnya, mulai dari Teluk Persia hingga Afrika Utara. Pemerintah AS dan sekutu Eropanya merasa kecolongan dengan sebegitu cepatnya rezim-rezim boneka mereka di Timur Tengah tumbang begitu saja. Investasi politik Barat selama beberapa dekade untuk menciptakan geografi politik yang baru di Timur Tengah dan penjarahan kekayaan minyak rakyat regional pun seakan musnah begitu saja dalam semalam.

Sejatinya, sudah lama pula gerakan-gerakan politik yang berbasiskan pada ideologi nasionalisme dan sosialisme bergerilya untuk membendung infiltrasi kekuatan Barat di Timur Tengah. Namun pada akhirnya seluruh gerakan itu pun musnah begitu saja tak mampu menandingi hegemoni Barat dengan AS sebagai dedengkotnya. Sebagai misal, Anwar Sadat, Presiden Mesir pada dekade 1970-an. Bersama dengan Hafez Al Assad, pemimpin Syria, Anwar memimpin Mesir dalam Perang Yom Kippur melawan Israel, untuk merebut kembali semenanjung Sinai, yang dicaplok oleh Israel ketika Krisis Terusan Suez 1956 dan Perang Enam Hari. Namun tak berapa lama kemudian, Anwar menjadi pelopor perdamaian dengan rezim zionis dan bergabung dengan barisan negara-negara sekutu AS.

Jejak Anwar Sadat itu lantas dilanjutkan oleh Hosni Mubarak. Namun dengan tumbangnya blok komunis yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, ideologi dan pergerakan sosialisme di Timur Tengah pun mengalami kemunduran. Tak sedikit pula rezim-rezim Arab yang akhirnya berbalik arah mencari perlindungan ke Barat. Bersamaan dengan itu, gerakan-gerakan Islam yang dimotori Revolusi Islam Iran justru mengalami penyegaran dan revitalisasi. Gerakan yang berbasiskan pada prinsip-prinsip ajaran Islam itu bukannya makin lemah tapi justru menjadi ancaman serius bagi kepentingan AS dan Eropa di Timur Tengah.

Mereaksi kenyataan itu, Washington dengan didukung rezim-rezim tiran regional semacam Ben Ali dan Hosni Mubarak berusaha memberangus gerakan-gerakan Islam di Timur Tengah. Di sisi lain, AS dan sekutunya juga berusaha menciptakan kelompok-kelompok radikal di tubuh masyarakat Islam seperti Taleban untuk menghambat pergerakan kelompok-kelompok Islam moderat yang dipelopori Revolusi Islam Iran. Tentu saja, pengaruh Revolusi Islam Iran di ranah pergerakan dan demokrasi Islam tak mudah begitu saja dibendung. Revolusi tersebut menjadi model dan inspirasi pergerakan rakyat di Timur Tengah.

Bila kita tengok kembali transformasi akhir regional selama tiga dekade belakangan dan kegagalan kebijakan AS di Timur Tengah tampak jelas betapa rapuhnya kemampuan Washington dalam memahami situasi regional. Gedung Putih berpikir identitas keislaman negara-negara muslim di kawasan dapat diberangus begitu saja dengan merangkul rezim-rezim tiran Arab dan menyebarkan pemikiran dan budaya Barat.

Karena itu menghapus identitas Islam gerakan rakyat Timur Tengah yang kian marak belakangan ini, AS dan sekutu Eropanya berusaha menyesatkan opini publik dunia dan mempersempit akar persoalan dan latar belakang gerakan revolusi rakyat Timur Tengah. Mesin-mesin propaganda Barat getol menyuarakan bahwa kebangkitan rakyat di dunia Arab hanya dilatarbelakangi oleh korupnya rezim-rezim diktator Arab dan bukan karena motif keagamaan untuk menentang para tirani boneka Barat. Namun bila kita simak kembali slogan-slogan dan tuntutan rakyat Timur Tengah nyata sudah bahwa mereka menginginkan kebebasan, Islam, dan kemerdekaan dari cengkraman kekuatan arogan dunia. Suatu nilai-nilai dan tujuan luhur yang selama ini gencar diperjuangkan Revolusi Islam Iran.

Dengan makin meluasnya gerakan kebangkitan rakyat menentang rezim-rezim diktator regional, Timur Tengah Baru pun mulai terbentuk. Timur Tengah baru yang layak disebut sebagai Timur Tengah Islami yang memiliki empat karakter utama. Pertama, masa kekuasaan rezim-rezim tiran dukungan Barat yang dipimpin oleh seorang atau dinasti diktator di Timur Tengah telah berakhir. Tak syak, di masa mendatang, partisipasi rakyat dalam menentukan format pemerintahan dan nasib negaranya bakal semakin luas.

Karakter kedua dari Timur Tengah Islami adalah gerakan-gerakan Islam akan menjadi kekuatan politik terkuat. Pasalnya pergerakan politik yang berbasiskan pada ideologi kesukuan, nasionalisme ataupun pemikiran Barat lainnya sudah tak mendapat tempat lagi di kalangan rakyat regional. Sementara gelombang kebangkitan Islam di dunia Arab semakin eksis dan mendapat dukungan luas dari kalangan akar rumput. Akibat tekanan gerakan kebangkitan Islam inilah, rezim-rezim tiran Arab jatuh berguguran satu demi satu.

Karakter ketiga adalah meningkatnya kesadaran rakyat Timur Tengah akan kebohongan slogan dan klaim demokrasi dan pembelaan terhadap hak asasi manusia yang kerap dipromosikan AS dan sekutunya. Rakyat regional kini telah mengetahui dengan jelas aktor utama yang telah menjarah kekayaan sumber daya negeri mereka. Karena itu, bisa dipastikan peran negara-negara Barat dalam pembentukan Timur Tengah Baru akan semakin terbatas.

Dan karkater keempat Timur Tengah Islami adalah kian meningkatnya atmosfir anti-zionisme dan sentimen anti-AS. Rezim-rezim tiran Arab seperti Ben Ali dan Hosni Mubarak telah bertahun-tahun menjalin hubungan dekat dengan rezim zionis Israel. Hubungan dekat itu telah menghalangi upaya rakyat untuk menentang kebiadaban rezim zionis. Padahal di mata bangsa-bangsa muslim khususnya di Timur Tengah, Palestina merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia Islam. Karena itu setiap pemerintah Arab yang tidak mendukung secara penuh perjuangan rakyat Palestina niscaya tidak akan mendapat posisi dalam peta perpolitikan Timur Tengah Islami. Di sisi lain, dengan sendirinya kekuatan rezim zionis Israel juga akan semakin melemah dan terkucilkan dari pergaulan regional dan internasional.