Firman Mardanoes

Tepatnya 38 tahun lalu, para ulama, tokoh umat islam dan tokoh partai politik islam melahirkan Partai Persatuan Pembangnan (PPP). 38 tahun silam, banyak tokoh penting menyatukan komitmen untuk membangunan kekuatan umat islam melalui politik. 38 tahun lalu, para pendiri partai tidak pernah terpikir dengan melahirkan PPP, akan memberikan dampak luas dan positif bagi insan yang berkiprah di dalamnnya.

38 tahun lalu, mereka yang berjuang keras melahirkan dan membesarkan PPP tak pernah berharap mendapat imbalan, upah, honor, pujian dan berbagai bentuk kenikmatan duniawi. Karena itu pula, PPP diperjuangkan agar tetap survive di bumi nusantara ini dengan keihklasan. Menjadi wakil presiden, menteri, gubernur, walikota/wakil walikota dan bupati/wakil bupati dan sederet jabatan politis lainnya, sama sekali tidak mereka harapkan dan impikan.Mereka juga tak pernah berminpi para kader PPP akan menikmati fasilitas kehidupan yang diberikan negara.

Waktu itu, para ulama dan tokoh penting bangsa ini melahirkan PPP dengan niat dan asa, PPP menjadi alat perjuangan umat islam dan masyarakat secara umum. Oleh karena itu pula, pemilihan azas dan lambang partai tidak mereka dapatkan dari hasil diskusi, semedi atau teka-teki silang, bahkan tidak juga dari sebuah mimpi. Azas dan lambang PPP diperoleh dari hasil munajat kepada Allah melalui shalat istikhoroh.

Niat tulus dan harapan mulia itulah yang kemudian menjadi motor penggerak, hingga kini PPP tetap hidup di hati umat Islam, meskipun harus diakui terjadi degradasi ghiroh perjuangan dan komitmen keikhlasan para kader PPP. Hal itu dibuktikan, dalam catatan perjalanan sejarah, PPP lambat laun ‘ditinggalkan’ umat Islam.

Berdasarkan kajian dan analisa sederhana serta awam ini, menurunnya trend kecintaan umat Islam kepada PPP, paling tidak disebabkan beberapa faktor dan indikator. di antaranya : (1) Melemahnya rasa kecintaan dan semangat berjuang yang dimiliki kader PPP, (2) kebijakan politik PPP yang terkesan tidak maksimal memperjuangkan kepentingan umat, (3) Sikap pragmatisme dan materialistik yang mulai tumbuh dan membudaya. (4) Habisnya kader-kader militan akibat tergerus perkembangan jaman dan budaya hidup masyarakat. (5) Bergesernya pola program yang dibangun dengan meninggalkan basis masjid, kelompok pengajian dan ajaran dan budaya islam lainnya.

Meski faktor dan indikator ini, tidak 100 pesen benar, tetapi paling tidak, kondisi ini harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan umat, terkhusus elit politik dan fungsionaris PPP di seluruh tingkatan. Karena di akui atau tidak, jika situasi PPP tidak berubah dari kondisi yang ada saat ini, maka bukan tidak mungkin PPP benar-benar ditinggalkan umat Islam dan pada akhirnya kiprahnya di pentas politik akan sirna. Dan bila itu, terjadi maka yang rugi dan menanggung akibatnya, tidak saja orang-orang yang berkiprah di PPP, tapi juga seluruh umat Islam.

Patut untuk direnungkan, jika PPP benar-benar tinggal kenangan. Seperti apa dan siapa lagi yang memperjuangkan kepentingan, aspirasi atau penyambung lidah umat umat Islam kepada para pemimpin bangsa ini. Saat ini saja, ketika kekuatan politik partai islam tidak lagi kuat, di sadari atau tidak, posisi umat islam secara perlahan terpinggirkan.

Fakta inilah yang harus menjadi cemeti bagi seluruh umat islam, fungsionari dan kader PPP untuk bangkit kembali membesarkan PPP. Umat masih membutuhkan kerja-kerja dan kebijakan politik PPP. Umat tentu rindu pada semangat juang PPP membantu dan mempertahankan kepentingan Islam. Umat juga pastinya tidak rela PPP hilang dari kancah politik nasional.

Menyahuti harapan yang begitu besar tersebut, maka PPP harus berani mengambil langkah dan sikap tegas terhadap seluruh kebijakan penguasa yang jelas-jelas merugikan umat islam. PPP harus kembali bergandengan tangan dengan seluruh umat islam, berjuang bersama dan menikmati hasil bersama-sama pula. Menderita bersama dan berbahagia secara berjama’ah. PPP harus menjadi garda terdepan mengawal kepentingan dan aspirasi umat islam.

Selain itu, PPP juga harus melakukan reformasi program, reformasi sistem kaderisasi dan reformasi pola rekruitmen pengurus. PPP harus setajam pedang terhadap seluruh kemungkaran, dan selembut kapas dalam mengayomi seluruh stakeholder. Perlu diingat PPP, mampu bangkit dan menang jika bersama-sama umat Islam, karena memang kemanangan umat adalah kemenangan PPP.