Ketua DPC PPP Jakarta Selatan, H. Ichwan Jayadi

Ada yang hilang dari PPP, ketika tidak ada kebanggaan lagi mengusung PPP, saat semangat hanya dinilai dengan materi, jabatan menjadi tujuan sesaat, aktivitas berpartai adalah kegiatan transaksional. Lalu, dimanakah prinsip-prinsip ibadah, keikhlasan, amanah, dan perjuangan saat ini,, mungkinkah sudah tergerus arus reformasi kebablasan. Hari ini, kita dan umat butuh ketauladanan para pemimpin, karena ketauladannanlah yang menjadi ruh-nya perjuangan Rasulullah (“aku diutus semata-mata hanya untuk menyempurnakan akhlak manusia”) dalam menegakan ajaran Islam. Manakala para pemimpin kita masih terlena dengan berhala kekuasaan-materislitik-oportunistik, apa yang dikhawatirkan, tentunya seluruh elemen kader PPP  harus bisa menjaga ghiroh PPP sebagai partai warisan ulama'” ucap Ichwan Jayadi  bersemangat

Visi

Terwujudnya masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT dan negara Indonesia yang adil, makmur, sejahtera, bermoral, demokratis, tegaknya supremasi hukum, penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), serta menjunjung tinggi harkat-martabat kemanusiaan dan keadilan sosial yang berlandaskan kepada nilai-nilai keislaman.

Misi

  1. PPP berkhidmat untuk berjuang dalam mewujudkan dan membina manusia dan masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, meningkatkan mutu kehidupan beragama, mengembangkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim). Dengan demikian PPP mencegah berkembangnya faham-faham atheisme, komunisme/marxisme/leninisme, serta sekularisme, dan pendangkalan agama dalam kehidupan bangsa Indonesia.
  2. PPP berkhidmat untuk memperjuangkan hak-hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia sesuai harkat dan martabatnya dengan memperhatikan nilai-nilai agama terutama nilai-nilai ajaran Islam, dengan mengembangkan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). Dengan demikian PPP mencegah dan menentang berkembangnya neo-feodalisme, faham-faham yang melecehkan martabat manusia, proses dehumanisasi, diskriminasi, dan budaya kekerasan.

Asas

PPP berasaskan Islam dan berlambangkan Ka’bah. Akan tetapi dalam perjalanannya, akibat tekanan politik kekuasaan Orde Baru, PPP pernah menanggalkan asas Islam dan menggunakan asas Negara Pancasila sesuai dengan sistem politik dan peraturan perundangan yang berlaku sejak tahun 1984.

Sejarah PARTAI

Persatuan Pembangunan (PPP) adalah sebuah partai politik di Indonesia dideklarasikan pada tanggal 5 Januari 1973, partai ini merupakan hasil gabungan dari empat partai keagamaan yaitu Partai Nadhatul Ulama (NU), Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), Perti dan Parmusi. Ketua sementara saat itu adalah H.M.S Mintaredja SH.

Penggabungan keempat partai keagamaan tersebut bertujuan untuk penyederhanaan sistem kepartaian di Indonesia dalam menghadapi Pemilihan Umum pertama pada masa Orde Baru tahun 1973. PPP didirikan oleh lima deklarator yang merupakan pimpinan empat Partai Islam peserta Pemilu 1971 dan seorang ketua kelompok persatuan pembangunan, semacam fraksi empat partai Islam di DPR. Para deklarator itu adalah;

  • KH Idham Chalid, Ketua Umum PB Nadhlatul Ulama;
  • H.Mohammad Syafaat Mintaredja, SH, Ketua Umum Partai Muslimin Indonesia (Parmusi);
  • Haji Anwar Tjokroaminoto, Ketua Umum PSII;
  • Haji Rusli Halil, Ketua Umum Partai Islam Perti; dan
  • Haji Mayskur, Ketua Kelompok Persatuan Pembangunan di Fraksi DPR.

Kami ingin menjadikan PPP sebagai rumah besar bagi seluruh umat Islam. Keinginan ini tidak berlebihan karena disamping PPP didirikan ulama partai NU, Parmusi, Perti dan PSII  organisasi yang berbasiskan Umat Islam “ujar Ichwan Jayadi ketua DPC PPP Jakarta Selatan

Yang terpenting dilakukan PPP saat ini, adalah mengembalikan kepercayaan umat. umat harus merasakan, bahwa PPP adalah alat perjuangan umat, bukan umat dijadikan alat oknum partai untuk mencapai tujuan… dan jangan lupa, kembalikan PPP pada posisi awal, yakni partainya para ulama… hari ini kita nyaris tidak bisa membedakan mana partai Islam mana partai sekuler, nasionalis. Semoga PPP semakin maju dan keluar sebagai pemenang pada Pemilu 2014,”Ucap pria pendiam yg mendapat nomor 13 saat maju menjadi calon anggota legislatif Dapil Jakarta selatan.

Pemilu 1977 PPP meraih 18.745.565 suara atau 29,29 persen dengan perolehan 99 kursi di DPR atau 27,12 persen.Pemilu 1987 PPP meraih 13.701.428 suara arau 15,97 persen dengan 61 kursi di DPR atau 15,25 persen dari 400 kursi yang diperebutkan.Pada Pemilu 1992 meraih 16.624.647 suara atau 14,59 persen dengan jumlah kursi di DPR sebanyak 62 kursi atau 15,50 persen dari 400 kursi yang diperebutkan.Pemilu 1997 PPP meraih 25.340.018 suara dengan perolehan kursi di DPR sebanyak 89 kursi atau 20,94 persen dari 425 kursi yang diperebutkan.Pemilu 1999 meraih 11.329.905 suara atau 10,71 persen dengan perolehan 58 kursi atau 12,55 persen dari 462 kursi yang diperebutkan.Pemilu 2004 PPP meraih 9.248.764 atau 8,14 persen dengan perolehan 58 kursi atau 10,54 persen dari 550 kursi yang diperebutkan   masih mungkin kah, untuk kembali seperti di tahun 2004 , jika tahun 2009 hanya memperolhe 38 kursi wakil rakyat. ini harusnya menjadi materi renungan kita semua sebagai kader penggerak partai berlambang Ka’bah ini “cetus Iwan Jayadi menguraikan data perolehan hasil suara.

PPP di Jakarta Selatan berpotensi kembali menjadi besar dengan Salah satu wilayah administratif Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta yang dipimpin oleh seorang walikota. Terdiri dari 10 kecamatan, yaitu Setia Budi, Tebet, Mampang Prapatan, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Cilandak, Pasar Minggu, Pesanggrahan, Pancoran, Jagakarsa. Jakarta Selatan dibentuk berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. Id.3/I/I/66 tanggal 12 Agustus 1966. adalah tugas kita semua sebagai fungsionaris PPP Jakarta Selatan untuk memetakan konstituen PPP dengan basis Daerah Pemilihan jakarta Selatan dan  rekrutmen yang akurat dan familiar dan bisa diterima oleh masyarakat luas tentang perjuangan PPP ke depan  tentunya dengan silaturahmi dan pencitaan PPP di tengah masyarakat agar bisa tepat sasaran utuk seluruh komunitas muslim tentunya: Papar Ichwan jayadi diplomatis.

sys