Wibawa dan legitimasi kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedikit banyak belakangan ini mulai pudar. Hal ini menyusul pada kasus yang menghebohkan hari-hari ini.
Pertama soal reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II. Pada kasus ini, isu reshuffle yang telah jadi perdebatan selama hampir tiga pekan ternyata pepesan kosong, padahal SBY telah mengancam anggota partai koalisi yang dinilai melanggar kesepakatan.
Kedua, soal berita berita yang ditulis The Age dan Sidney Herald Morning kemarin dengan mengutip bocoran WikiLeaks. Di situ, SBY disebut telah menyalahgunakan wewenang.

Atas dua kasus itu yang membuat legitimasinya sebagai pemimpin dipertanyakan, Presiden SBY diingatkan harus segera melakukan tindakan konkret untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diingankan yang dapat menganggu stabilitas bidang politik.
“Salah satu hal yang bisa dilakuan Presiden saat ini adalah segera merangkul umat Islam. Karena sampai saat ini kita melihat SBY masih mejaga jarak dengan umat Islam,” kata Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Daulay seperti dikutip dari Rakyat Merdeka Online (Sabtu, 12/3).
Dikatakan, SBY sebaiknya mengajak dan mengundang para tokoh-tokoh Islam untuk berdialog dan kemudian mendengarkan masukan-masukan dari umat Islam. Karena diingatkannya, umat Islam merupakan warga negara yang paling banyak memilihnya pada saat pemilihan presiden dan sampai saat ini belum mendapatkan hasil kerjanya selama memimpin.
“Karena selama ini orang yang mengaku nasionalis yang ada di lingkungannya lebih banyak menjorokkannya. Makanya SBY harus mendekati umat Islam. Tapi harus melaksanakan usul-usul yang disampaikan,” tandasnya.

MPP/RMO/