SBY

Konflik agama di Indonesia sudah terjadi sejak lama. Akan tetapi, konflik itu lebih sering terjadi pasca reformasi. Konflik agama ini tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi memang ada konteks yang membuat hal itu terjadi.
Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Wahid Institute Ahmad Suaedy dalam diskusi, hari ini, Sabtu (12/3) di kantor Wahid Institute, Jakarta Pusat.
Ahmad menduga, kekerasan yang sering terjadi karena tidak adanya penegakan hukum. Selain itu, kata dia, tidak adanya ketegasan dari pemimpin dalam menegakkan hukum.
“Kalau pemimpin tegas, kekerasan seperti ini tidak akan terjadi,” ujarnya lagi.
Ia menganggap, mental masyarakat saat ini sudah agak parah. Sehingga kondisi Indonesia mengarah menuju negara Pakistan. Ahmad juga berkeyakinan, kekerasan yang terjadi dengan label agama itu, ada tangan-tangan yang tidak terlihat terlibat di dalamnya.

Ia lalu mencontohkan kasus penyerangan Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, begitu juga pembakaran Gereja yang terjadi di Temanggung, Jawa Tengah. Ahmad juga heran, mengapa seolah-olah Presiden SBY memberikan tanggungjawab sepenuhnya kepada Menteri Agama terkait dengan permasalahan Ahmadiyah.
“Saya tidak tahu, apakah dia (SBY) ingin terlihat bersih?” kata Ahmad.

MPP/RMO/