Gempa dengan kekuatan nyaris 9 skala richter mengguncang Jepang pada Jum’at siang, 11 Maret 2011. Gempa memicu tsunami yang kemudian menyapu bersih kawasan pesisir timur Jepang. Perdana Menteri Jepang, Naoto Kan menyebut bencana ini sebagai yang terbesar bagi negaranya sejak Perang Dunia Kedua. Jumlah 1.000 adalah angka yang diperkirakan dari korban jiwa yang ditimbulkannya.

Gempa dan tsunami hanya berdurasi tidak lebih dari 1 atau 2 jam saja, tetapi telah membuat kerusakan parah dan korban jiwa yang besar. Namun, kini pasca gempa dan tsunami Jepang kembali ditimpa musibah yang kadar kerusakannya bisa jadi lebih dahsyat dari gempa bumi dan tsunami. Gempa dan tsunami tersebut ternyata juga merusak beberapa reaktor nuklir di daerah Fukushima, yang memicu ledakan pada PLTN setempat. Kecemasan pun berlanjut. Kekhawatiran meluas di masyarakat Jepang, bahkan dunia, akan bahaya radiasi nuklir besar-besaran akibat kerusakan pada reaktor-reaktor tersebut.

Spekuklasi pun merebak luas. Ledakan reaktor nuklir ini tak pelak mengembalikan ingatan publik pada peristiwa kecelakaan nuklir paling menyeramkan sepanjang sejarah, peristiwa Chernobyl di Ukraina pada 26 April 1986.

Korban pada peristiwa Chernobyl dilaporkan merenggut sekitar 4000 jiwa orang tewas. Jumlah tersebut terus meningkat seiring berjangkitnya penyakit yang diakibatkan paparan radiasinya. Kanker adalah penyakit yang paling banyak dilaporkan. Jumlah korban yang jatuh akibat paparan radiasi ini masih menjadi kontroversi. Namun perkiraan umum adalah berkisar antara 93 – 200 ribu jiwa.

Mutasi Gen

Mutasi gen merupakan imbas lain dari kejamnya radiasi Chernobyl. Mutasi gen 11q23 ini merupakan salah satu contoh nyata yang berhubungan dengan leukimia pada bayi. “Temuan ini merupakan bukti langsung pertama, bahwa radiasi ternyata menimbulkan mutasi pada anak manusia,” ulas Sir Alec Jeffreys, ahli genetika dari Universitas Leicester. Sir Alec melakukan penelitian pada 79 keluarga yang tinggal di Mogilev, Belarus, kawasan yang terkena radiasi tinggi, kurang lebih 300 kilometer dari Chernobyl. Ia meneliti anak-anak di keluarga tersebut yang lahir antara Februari-September 1994. Sebagai perbandingan, ia juga meneliti 105 anak-anak yang tidak terkena radiasi dari Inggris. Hasilnya, anak-anak Mogilev terbukti mengalami mutasi gen dua kali lebih tinggi dibandingkan anak-anak di Inggris. Mutasi tersebut jelas diturunkan oleh orang tua mereka, dan secara permanen terkode pada gen anak-anak mereka. Artinya, mutasi tersebut juga akan diturunkan pada generasi-generasi selanjutnya. Menurut Sir Alec, mutasi pada keluarga di Mogilev berhubungan dengan tingkatan kontaminasi permukaan oleh caesium 137, sebuah isotop radioaktif.
Bahkan ahli genetika dari Akademi Sains Rusia Yuri Dubrova menyatakan, kelompoknya melihat lokasi genetik tertentu yang dikenal dengan nama minisatellites yang mengalami laju mutasi 1000 kali lipat lebih tinggi dibandingkan gen lainnya. Sementara itu, Robert Baker dari Universitas Teknologi Texas meneliti dua kelompok tikus, yaitu kelompok yang tinggal satu kilometer dari reaktor, dan yang hidup 32 kilometer dari reaktor. Yang diteliti adalah mitokondria DNA (bagian sel yang diturunkan induk betina) pada anak tikus-tikus. Nada miris terdengar dari mulut peneliti Universitas Texas Austin David Hillis. “Kita sekarang tahu, dampak mutasi akibat kecelakaan nuklir mungkin lebih besar daripada yang diharapkan,” komentar Hillis.

Uni Eropa Tinjau Ulang Proyek Nuklirnya

Pada Selasa (15/3) terdengar kabar bahwa pejabat Uni Eropa menyerukan pertemuan koordinasi di antara para menteri energi untuk menilai keselamatan nuklir di Eropa. Bahkan pemerintahan di seluruh dunia kini meninjau kembali keselamatan PLTN mereka dan menunda rencana membangun sarana baru setelah gempa bumi dan tsunami merusakkan reaktor-reaktor di Jepang.

Koordinasi itu melibatkan para menteri energi Uni Eropa, pejabat keselamatan nuklir nasional dan perusahaan yang menjual atau mengoperasikan PLTN. Pertemuan ini dilakukan guna menilai situasi di Jepang, dan meninjau kembali PLTN di Eropa apakah ampuh menghadapi gempa bumi dan perhatian dipusatkan pada sistem pendinginannya.

Diberitakan negara Swiss telah menghentikan proses persetujuan untuk tiga PLTN agar standar keselamatan bisa ditinjau ulang.

Sementara Perdana Menteri India Manmoohan Singh telah memerintahkan inspeksi keselamatan untuk semua PLTN di India, dan memeriksa kerentanannya terhadap gempa bumi dan tsunami dan masalah lain.

Tak ketinggalan, Perdana Menteri Australia Julia Gillard mengatakan Australia punya banyak sumber energi alternatif dan tidak membutuhkan PLTN.

Semua ini akibat apa yang terjadi di Jepang. Ternyata keamanan reactor nuklir yang super ketat sekalipun tidak mampu menahan gejolak alam seperti gempa. Dan bila kerusakan reaktor nuklir terjadi di banyak negara, maka dipastikan masa itulah akhir dari usia bumi atau akhir dari populasi kehidupan di bumi karena bumi yang terpapar radiasi tak mungkin lagi jadi tempat makhluk hidup mengembangkan kehidupannya.

Hikmah

Dari peristiwa meledaknya reaktor nuklir di Jepang yang menimbulkan keresahan bukan saja pada warga Jepang melainkan telah meluas secara internasional, kiranya PBB dan Barat tidak hanya memfokuskan konsentrasinya pada ancaman nuklir Iran seperti yang selama ini ditunjukkan. Ternyata ancaman bahaya nuklir itu datang lebih awal dari negara Jepang. Sejatinya negara-negara yang tidak setuju Iran memiliki energi nuklir juga melihat dan berpikir, bahwa nuklir yang berbahaya itu ada pada semua reactor yang mereka dirikan di seluruh dunia, bukan hanya di Iran saja.

dowy/berbagai sumber